Candaan Qiraat


Dalam Qiraat Imam Al-Kisa’i, beliau (Imam Al-Kisai) bukan termasuk para qurro yang membaca dengan ibdal (mubdilin). Apa itu ibdal?

Ibdal adalah mengganti huruf hamzah dengan huruf yang sejenis dengan harakat sebelumnya. Misalnya kata (بِئْسَ). Kalau kita membaca dengan Ibdal (seperti dalam Riwayat Warsy, As-Susi dan Abu Ja’far) maka kita membacanya dengan mengganti hamzah dengan ya (بِيْسَ). Kenapa diganti dengan ya, dan bukan dengan huruf mad yang lain? karena ya sejenis dengan kasrah yang dimana kasrah itu adalah harakat sebelum hamzah tersebut. InsyaAllah paham ya, apa itu ibdal?

Lalu, hal yang harus dijelaskan juga, lawannya membaca dengan ibdal adalah membaca dengan hamzah. Dan hamzah itu sendiri dalam Bahasa Arab mempunyai makna yang lain, bukan huruf hamzah tapi mengumpat atau mengejek. Kata Al-Humazah yang kita tau nama surat di Al-Quran itu diambil dari kata (الهمز) yang artinya sudah dijelaskan barusan.

Oke, kita balik ke pembahasan bacaan Imam Al-Kisa’i. Meskipun beliau itu bukan termasuk mubdilin, tapi dalam lafal (الذئب) yang artinya serigala, beliau membacanya dengan ibdal (الذيب), bukan dengan hamzah. Ketika ditanya, mengapa beliau membaca demikian, kata beliau: “Supaya dia tidak makan saya (karena saya mengumpatnya).” Semoga Allah membuat kalian tertawa. Semoga Allah meridhai Imam Al-Kisai dan para imam yang lainnya.

Kisah ini diceritakan oleh guru kami, Maulana Syaikh Yusuf At-Turk radhiyallahu ‘anh

Catatan: Tulisan ini tidak bermaksud memberikan pemahaman bahwa bacaan itu adalah pilihan dari sesuai selera para imam. Tidak. Saya kira dari judul sudah kita pahami, bahwa ini adalah senda gurau. Bahkan Imam Asy-Syathibi sudah bilang dengan tentang permasalahan ini. Dawuh beliau:

وَمَا لِقِياسٍ فِي القِراءَةِ مَدْخَلٌ

“Analogi (Qiyas) itu tidak diperkenankan dalam urusan Qiraah.” Artinya Qiraah itu murni urusannya dengan periwayatan bukan analogi apalagi hawa nafsu.

Wallahu a’lam. Wabillahittaufiq.