Bersama Kesulitan Sudah Ada Kemudahan


Allah ta’ala berfirman :

فـإنّ مع العسر يسرا (5) إنّ مع العسر يسرا (6)

“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5) Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6)” (QS. Asy-Syarh ayat 5-6).

Dalam ayat ini terdapat kisah yang menakjubkan. Yang mana itu menjadi sebab turunnya kedua ayat ini. Kisah itu terkenal dengan EKSPEDISI AL-KHABATH. Ketika itu Nabi ﷺ mengutus 300 pasukan dengan komando Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah. Tujuan utamanya adalah untuk menghadapi kaum musyrikin di wilayah pesisir. Sekaligus menjaga keamanan dan posisi kaum muslimin. Yang membuat kisah ini masyhur bukan karena jumlah pasukannya. Tapi, dimana saat itu para sahabat hanya membawa sedikit perbekalan. Dan ketika persediaan mereka sudah habis para sahabat sampai-sampai memakan dedaunan kering yang jatuh. Karena ini ekspedisi tersebut dinamakan (Al-Khabath) yang artinya dedaunan kering yang jatuh. Sebelum keberangkatan, sebenarnya para sahabat sudah meminta tambahan pasokan kepada Nabi ﷺ. Akan tetapi beliau mengatakan. “Jika saja aku memiliki kelebihan pasokan, maka aku akan tambahkan.”maka mereka beranjak setelah mendengar itu. Setelah beberapa saat, Nabi mengutus sahabat untuk membawa berita untuk mereka. Bahwasanya telah turun ayat kepada Nabi yaitu ayat yang sudah kita sebutkan. Dan Allah menepati janjinya dengan mereka menemukan bankai ikan yang sangat besar. Sampai seluruh prajurit kebagian semua. Bahkan, mereka membawanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. 1

Dalam ayat ini pula terdapat tafsiran yang sangat luar biasa. Membuat kita sadar bahwa Al-quran lebih dari sekedar kata sempurna. Mari aku akan menjelaskannya secara sederhana.

Rahasia Dalam Pengulangan

Pengulangan diatas tentu saja bukan sekedar pengulangan biasa. Para ulama tafsir dan bahasa memberikan penjelasan yang sangat indah.

Penegasan janji Allah ta’ala.

Allah ta’ala berfirman :

فـإنّ مع العسر يسرا

Allah mengabarkan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Kemudian mengulangi nya :

إنّ مع العسر يسرا

Seakan-akan Allah mengatakan, janji Allah benar-benar akan terlaksana.

Pengulangan dalam bahasa arab biasa disebut taukid (توكيد). 2 Digunakan untuk menegaskan suatu dengan sangat kuat.

Perhatikan! Yang diulang adalah العسر dengan (ال). Sedangkan يسرا ditulis dengan dengan bentuk nakirah.

Ini bagian menariknya. Kata العسر dengan (ال) yang berarti ma’rifah. Secara kaidah bahasa arab yaitu suatu yang menunjukan hal yang sama/telah ditentukan (معيّن).3

Sedangkan يسرا datang dalam bentuk nakirah (indefinite). Mudahnya dia adalah antonim dari ma’rifah, yakni suatu yang tidak menentu. Sehingga para ulama menjelaskan bahwa kemudahan yang kedua adalah kemudahan yang berbeda.

Dari situ keluarlah ungkapan masyhur dari para ulama :

“لن يغلب عسر يسرين”

“Satu kesulitan tidak dapat mengalahkan dua kenaikan”⁴

Dengan kata مع justru menjadi indah.

Allah ta’ala tidak mengatakan :

بعد العسر يسرا

“setelah kesulitan ada kemudahan” Tapi Allah ta’ala mengatakan :

مع العسر يسرا

Kata مع dalam bahasa arab artinya مصاحبة\معيّة (bersama). Jadi kemudahan itu bukan selalu harus menunggu sampai kesulitan itu selesai. Allah ta’ala mengatakan : “Bersama kemudahan itu sendiri sudah ada kemudahan”. Makna ini sangat dalam.

Seperti para sahabat pada ekspedisi al-khabath. Mereka sedang mengalami kesulitan, tapi disaat yang sama Allah telah menyiapkan jalan keluar berupa kekuatan, keteguhan, kemenangan, ikan besar, atau hikmah yang belum mereka temukan. Lihatlah, betapa sempurnanya kalamullah. Terima kasih sudah membaca. mungkin ini cukup dari saya. semoga kalian selalu dirahmati Allah ta’ala.4

Sekian. Wallahu a’lam.


  1. Lihat Abdur Rahman bin Abu Bakar Jalaluddin As-Suyuthi, Ad-Durr al-Mantsūr fī al-Tafsir Bil-Ma’tsūr (Beirut: Daar Fikr, n.d.), hlm. 550. ↩︎

  2. Lihat Muhammad Muhyiddin Ibnu Abdil Hamid, Tuhfatus Saniyyah bi Syarh al-Muqaddimah al-Ajurumiyyah (Buslah, 1445 H / 2024 M), hlm. 170. ↩︎

  3. Ibid., hlm. 184. ↩︎

  4. Lihat Majmuah minal Muallifin. Mausū‘ah at-Tafsīr al-Ma’tsūr. Beirut: A’limul Kitab, 1412 H / 1992 M. ↩︎

Isa Ibnu Rizal